Jumat, 23 Agustus 2019 | 08:24 WIB

Sistem OSS Dorong Investasi Pariwisata di Batam

Pariwisata 10 Mei 2019 Taslimahudin 11


Pantai Terih Batam

Pantai Terih Batam


MAKRO.ID - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menilai aplikasi online single submussion (OSS) memudahkan investor pariwisata untuk melakukan aktivitas bisnis di Indonesia. Hal ini dirasakan Kota Batam dan Danau Toba. Kemenpar menilai keduanya saat ini menjadi incaran penanam modal (investor). 

Asisten Deputi Investasi Kementerian Pariwisata Hengki Manurung mengatakan, OSS membuat pelaku usaha tidak lagi kesulitan dalam mengurus izin usaha. Pada Januari 2019, 10 ribu pelaku usaha bidang pariwisata sudah muncul dari 200 ribu Nomor Induk Berusaha yang terdaftar dalam OSS.

"Salah satunya, Batam yang ditetapkan sebagai pintu gerbang guna meraup 2,5 juta wisatawan," ujar Hengki Manurung, Rabu (8/5/2019).

Hengki berharap, pelaku usaha bisa melakukan pengembangan untuk menarik wisatawan serta mendorong kualitas produk Usaha Kecil Menengah (UKM).

Penggunaan teknologi OSS yang dilakukan Badan Koordinasi Penanaman Modal membuat penerbitan izin usaha menjadi lebih cepat. Selain itu, izin operasional komersial juga langsung terurus.

Hal ini berdampak positif terhadap perekonomian daerah. Menurut dia, investasi di Batam bakal menjadi salah satu jalur cepat sebagai penghubung untuk meningkatkan jumlah pengunjung asing.

"Tahun 2005 masih banyak tanah lapang, sekarang banyak berdiri hotel megah, sisi infrastruktur juga semakin mapan,” ujar Hengki.

Selain itu, Danau Toba yang menjadi salah satu destinasi prioritas 10 Bali baru juga memiliki wilayah khusus untuk investasi, yaitu Danau Aek Natonang di Pulau Samosir seluas 65 hektare. Kemenpar menargetkan satu juta wisatawan mancanegara datang ke Danau Toba pada tahun ini.

Kemenpar menyebut, ada dua calon investor yang menunjukkan ketertarikannya dalam mengembangkan pariwisata di Kabupaten Samosir, yakni PT Sekarmas Nusantara yang merupakan pemilik dan pengelola Merapi Park, Yogyakarta, serta PT Artha Prakarana dari Jakarta.

Menurut Leo Rustandi, Direktur Utama PT Artha Prakarana, kawasan Danau Aek Natonang memerlukan pengembangan atraksi untuk menarik minat wisatawan di Kabupaten Samosir.

"Tempatnya bagus, tinggal dipikirkan atraksi apa yang cocok untuk mendatangkan orang lebih banyak, sambil mengembangkan PAD-nya," kata Leo.

Dia menyebutkan, peningkatan hotel sebagai penginapan serta promosi bidang kesenian menjadi salah satu kunci pariwisata. Kedua hal ini bakal mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi rencananya harus matang.

Pemilik sekaligus pengelola Merapi Park Yogyakarta, Bambang Utomo, juga mengatakan sektor pariwisata Pulau Samosir masih berpotensi besar untuk dikembangkan.

"Peluangnya besar karena Danau Toba sangat eksotik, banyak hamparan lansekap indah tapi belum ada pengembangan," ujar Bambang.

Wakil Bupati Kabupaten Samosir Juang Sinaga memastikan pemerintah setempat akan menyambut baik kehadiran investor sebagai upaya memajukan pariwisata Danau Toba.

"Namun, investor harus memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan menjaga muatan lokal," ujar Juang Sinaga.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, upaya yang dilakukan pemerintah pusat kerap tidak sejalan dengan pemerintah daerah. Misalnya saja dalam hal transformasi perizinan yang masih sulit dilaksanakan di sejumlah wilayah

"Pengembangan sektor pariwisata justru lebih optimal bila perizinan dilakukan melalui pelayanan terpadu satu pintu (one stop service), salah satunya melalui OSS ini," ujar Menpar Arief Yahya.

Rumitnya perizinan masih tecermin dari indikator memulai usaha (starting business) dalam tingkat kemudahan berusaha (ease of doing business/EoDB) 2018 yang berada di level 144 dari total 190 negara.

"Karena saya sadar betul kalau tidak (melalui) satu pintu, permasalahan perizinan akan terjadi lagi," pungkasnya. (IMR)


Editor : Taslimahudin




Top